Hampir 100 tahun Perjalanan Toko Obat Irian selama Tiga Generasi, Keluarga Bermarga Lu (盧) Menjaga Tradisi Ilmu Pengobatan Tiongkok Sejak 1936

BANDARLAMPUNG, RUANGBERITA.CO.ID -— Di tengah pesatnya perkembangan dunia kesehatan modern, terdapat kisah sebuah keluarga yang selama hampir satu abad memilih menjaga sesuatu yang tidak dapat diukur dengan usia bangunan maupun nilai materi: sebuah warisan ilmu pengetahuan.

Warisan tersebut adalah Traditional Chinese Medicine (TCM) yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga bermarga Lu (盧) dan terus hidup hingga kini melalui Toko Obat Irian.

Perjalanan ini tidak dimulai di Indonesia.

Akar sejarah keluarga bermarga Lu (盧) berasal dari Distrik Yongding (永定区), Longyan, Provinsi Fujian, Tiongkok, sebuah kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya Hakka dan daerah asal banyak perantau Tionghoa ke Asia Tenggara. Selama berabad-abad, masyarakat Hakka membawa serta bahasa, budaya, nilai kekeluargaan, dan tradisi pengobatan ketika merantau ke berbagai penjuru dunia.

Berbekal warisan tersebut, pada tahun 1936, Lu Zhao Qi (盧肇基) bersama istrinya, Yu Shang Lan (余尚蘭), mendirikan sebuah toko obat tradisional bernama Thay Seng Ho (大生和) di Teluk Betung, Lampung.

Pada masa Hindia Belanda, Thay Seng Ho menjadi awal perjalanan keluarga bermarga Lu (盧) dalam mengabdikan diri melalui pengobatan tradisional Tiongkok.

Bagi Lu Zhao Qi, pengobatan bukan sekadar meracik herbal, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab kepada sesama. Setiap ramuan dibuat dengan ketelitian, setiap pelayanan diberikan dengan penuh penghormatan terhadap manusia, dan kepercayaan masyarakat menjadi warisan pertama yang harus dijaga.

1957: Lahirnya Toko Obat Irian

Dua puluh satu tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1957, Thay Seng Ho memasuki babak baru.

Nama usaha berubah menjadi Toko Obat Irian, mengikuti perkembangan Indonesia pada masa itu.

Namun, yang tidak pernah berubah adalah nilai-nilai yang menjadi fondasi keluarga. Ilmu tetap dijaga, etika tetap dipertahankan, dan kepercayaan masyarakat tetap menjadi amanah utama.

Sejak saat itulah nama Toko Obat Irian dikenal luas oleh masyarakat Lampung dan terus bertahan hingga hari ini.

Generasi Kedua Menjaga Amanah

Tongkat estafet kemudian diteruskan kepada Lu Che Piao (盧志標) (Sinshe Apiu) bersama istrinya, Liem Li Lis (Lilis).

Bagi Lu Che Piao, meneruskan usaha keluarga bukan sekadar menjaga keberlangsungan sebuah toko obat, melainkan menjaga amanah yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.

Dalam wawancaranya yang dimuat oleh Lampung Post Xinwen pada 27 Juli 2007, beliau menjelaskan bahwa pengobatan tradisional Tiongkok memandang kesehatan sebagai keadaan yang selaras. Tubuh dipahami sebagai satu kesatuan yang dipengaruhi oleh keseimbangan, pola hidup, makanan, istirahat, dan lingkungan.

Beliau juga menekankan bahwa seorang sinshe tidak cukup hanya memahami ramuan herbal. Seorang sinshe harus memiliki ketelitian, pengalaman, etika, dan rasa tanggung jawab terhadap setiap keputusan yang diambil.

Di balik wawancara tersebut tersimpan sebuah kegelisahan. Beliau melihat semakin sedikit generasi muda yang bersedia mempelajari pengobatan tradisional Tiongkok.

Menurut beliau, ilmu seperti ini tidak dapat dipelajari secara instan. Ilmu hanya dapat diwariskan melalui proses panjang, pengalaman, pengamatan, serta bimbingan langsung dari guru kepada murid.

Ketika Kekhawatiran Berubah Menjadi Harapan

Harapan itu mulai tumbuh pada tahun 2008.

Lu Che Piao (盧志標) (Sinshe Apiu) memulai proses pewarisan ilmu kepada putra kandungnya, Lu Ching Siang (盧景祥) (Sinshe Asiong) sebagai Generasi ke-27.

Selama bertahun-tahun, proses pembelajaran berlangsung melalui pendampingan langsung dalam praktik sehari-hari, mulai dari mengenali berbagai jenis herbal, memahami filosofi Traditional Chinese Medicine, mempelajari teknik peracikan, hingga memahami etika pelayanan kepada masyarakat.

Selain memperoleh bimbingan langsung dari ayahnya, Lu Ching Siang juga belajar dari beberapa sinshe senior yang masih memiliki hubungan keluarga, termasuk paman dan kerabat dari garis keluarga bermarga Lu (盧). Melalui mereka, pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai yang diwariskan menjadi semakin kaya.

Setelah Lu Ching Siang menikah, proses pewarisan ilmu kembali diperluas.

Istrinya, Lie Shui Kim (李水金) (Silvie Kim), turut dibimbing secara langsung oleh Lu Che Piao untuk memahami filosofi pengobatan keluarga, pengenalan herbal, dasar-dasar Traditional Chinese Medicine, serta proses peracikan herbal.

Dengan demikian, proses regenerasi tidak hanya mempersiapkan seorang penerus, tetapi juga membangun kesinambungan pengetahuan dalam lingkungan keluarga agar warisan tersebut tetap terjaga.

Regenerasi yang Terdokumentasi

Kesinambungan keluarga juga dibuktikan melalui Surat Penyerahan Wewenang yang ditandatangani pada 22 April 2005 dan mulai berlaku pada 1 Mei 2005 .

Dokumen tersebut menjadi salah satu arsip penting keluarga yang menunjukkan bahwa proses regenerasi dipersiapkan secara terencana sebagai bentuk tanggung jawab menjaga warisan lintas generasi.

Perjalanan yang Terdokumentasi

Perjalanan Toko Obat Irian tidak hanya hidup dalam ingatan keluarga.

Pada tahun 2007, kisah tersebut diangkat dalam liputan khusus Lampung Post Xinwen yang membahas sejarah Toko Obat Irian, filosofi pengobatan tradisional Tiongkok, serta pentingnya menjaga kesinambungan ilmu.

Memasuki era digital, perjalanan keluarga bermarga Lu (盧) kembali mendapat perhatian berbagai media.

Sejak 2023 hingga 2026, Toko Obat Irian dan Toko Obat Irian 2 turut diberitakan berbagai media lokal maupun nasional..

Pada 2024, kegiatan Lu Ching Siang (盧景祥) (Sinshe Asiong) di bidang kesehatan tradisional juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Bandar Lampung.

Dalam salah satu pemberitaan, Wali Kota Eva Dwiana menyatakan kesiapan menjajaki kolaborasi dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Bagi keluarga bermarga Lu (盧), perhatian tersebut dipandang sebagai dorongan untuk terus melestarikan warisan pengobatan tradisional secara bertanggung jawab, sejalan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.

Warisan yang Terus Hidup

Hari ini, perjalanan yang dimulai pada tahun 1936 masih terus berlanjut.

Dari Lu Zhao Qi (盧肇基) kepada Lu Che Piao (盧志標) (Sinshe Apiu), dan kini diteruskan oleh Lu Ching Siang (盧景祥) (Sinshe Asiong) bersama Lie Shui Kim (李水金) (Silvie Kim).

Tiga generasi.

Hampir satu abad perjalanan.

Satu komitmen.

Menjaga ilmu yang diwariskan para pendahulu.

Bagi keluarga bermarga Lu (盧), warisan terbesar bukanlah bangunan, bukan pula nama usaha. Warisan terbesar adalah ilmu yang tetap hidup karena dipelajari dengan kerendahan hati, diamalkan dengan integritas, dan diteruskan dengan penuh tanggung jawab.

Sebagaimana pepatah Tiongkok:

前人栽樹,後人乘涼

“Generasi terdahulu menanam pohon, generasi berikutnya menikmati keteduhannya.”

Keluarga bermarga Lu (盧) percaya bahwa setiap generasi tidak hanya menikmati hasil perjuangan para pendahulu, tetapi juga memiliki kewajiban untuk menjaga, memperkaya, dan meneruskan warisan tersebut agar tetap hidup bagi generasi-generasi yang akan datang. (Rls/RB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Shares
Share via
Copy link