Banyak yang Mengira Dolar Naik Tak Pengaruh pada Energi RI, Analisis Senior Komunikasi SKK Migas Ungkap Fakta Mengejutkan Ini!

BANDARLAMPUNG, RUANGBERITA.CO.ID – Ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap menunjukkan resiliensi yang kuat pada tahun 2026 dengan target pertumbuhan di atas 5%. Angka ini dinilai cukup impresif karena berhasil jauh mengungguli rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan hanya berada di kisaran ± 3,1%.Kamis 24 September 2026.

Meski demikian, tantangan besar membayangi akibat eskalasi ketegangan global, mulai dari krisis Ukraina, ketidakstabilan di Timur Tengah (Iran-Israel), hingga persaingan geopolitik antara AS dan Tiongkok. Dampak dari konflik ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent yang diperkirakan bergerak di angka US$80–US$120 per barel.

Menanggapi situasi ini, Analisis Senior Komunikasi SKK Migas, Gyzelda Disanty menegaskan pentingnya memperkuat pertahanan energi dari dalam negeri. Menurutnya, kondisi geopolitik sekarang memang di luar negeri terjadi ketegangan global seperti naiknya harga dolar naik. Banyak yang bilang kalau di sini tidak pakai dolar jadi seharusnya tidak pengaruh. Itu salah, tetap saja berpengaruh kalau untuk energi.

“Karena produksi migas di dalam negeri tidak cukup, karena untuk kebutuhan migas nasional kita butuh impor, dan impor itu nilai tukarnya membutuhkan dolar,” terangnya dalam acara Edukasi Hulu Migas di Pengalengan, 22 September 2026.

Ia melanjutkan bahwa di tengah volatilitas pasar energi dunia, peningkatan investasi hulu migas (upstream) menjadi harga mati. Indonesia harus memastikan tren kenaikan investasi periode 2026–2030 berjalan optimal untuk memangkas ketergantungan impor dan menjaga ketahanan domestik. Langkah strategis ini juga diambil guna mengatasi tantangan “Trilemma Energi”, yakni menjaga keseimbangan antara ketahanan energi, keterjangkauan harga, dan upaya menekan emisi karbon.

Produksi domestik menjadi sangat penting karena energi berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari mobilitas, logistik, kebutuhan industri, kelistrikan, hingga menjaga ketahanan ekonomi nasional. Melalui pengawasan ketat dari SKK Migas di sektor hulu (upstream) hingga sinergi BPH Migas dan Pertamina di sektor hilir (downstream), pasokan energi dalam negeri diharapkan tetap andal guna menopang keberlanjutan usaha dan aktivitas masyarakat luas. (Din/LN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Shares
Share via
Copy link