BANDARLAMPUNG, RUANGBERITA.CO.ID – Di tengah tren penurunan cadangan alamiah minyak dan Gas Bumi di Indonesia PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) terus mematangkan strategi untuk menjaga stabilitas pasokan migas nasional. Senin (28/9/2026).
Dengan penuh optimisme, alih-alih mengendurkan operasional perusahaan justru kian gencar berinvestasi pada kegiatan perawatan dan intervensi sumur guna menahan laju penurunan produksi alamiah (natural decline).
Langkah taktis ini diambil sebagai respons nyata terhadap realitas kondisi geologi lapangan-lapangan matang yang telah dieksploitasi selama puluhan tahun di perairan tenggara Sumatra. Perusahaan menilai, pengelolaan aset lama secara cerdas merupakan kunci utama dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional saat ini.
“Kondisi cadangan kita memang semakin terbatas, tetapi tetap ada opportunity, termasuk melalui sumur tua,” tulis manajemen PHE OSES dalam keterangan resminya di web.

Hal senada diungkapkan oleh Analisis Senior Komunikasi SKK Migas , Gyzelda Disanty saat memberikan pemaparan Edukasi Hulu Migas Indonesia kepada Media di Pengalengan , 21 September 2026.
Dalam pemaparannya,Gyzel, sapaan akrabnya memaparkan bahwa PHE OSES bahwa sumur-sumur matang (mature wells) di wilayah kerja lepas pantai Sumatra masih menyimpan potensi besar jika dikelola dengan strategi dan teknologi yang tepat. Peluang (opportunity) tersebut diwujudkan melalui program kerja ulang dan intervensi sumur yang terukur untuk mengaktifkan kembali zona-zona produktif yang sempat terabaikan.
“Kita terus menggunakan strategi dengan mengoptimalkan sumur-sumur tua di wilayah kerja PHE OSES. Kita juga melakukan perawatan sumur, pengeboran pengembangan,teknologi sesuai reservior,” paparnya.
Lanjutnya, untuk mengubah tantangan sumur tua menjadi peluang yang menguntungkan, PHE OSES mengintegrasikan aspek operasi dengan inovasi mutakhir. Salah satu pilar utamanya adalah penerapan Optimized Oilfield Intrgration Platform (OOIP) di fasilitas lepas pantai seperti Cinta Complex.
“Sistem automasi digital ini memungkinkan tim engineer memonitor performa tekanan reservoir dan mendeteksi kebutuhan perawatan sumur secara real-time,” ungkapnya.
Gyzelda menyampaikan, tak hanya itu, guna menguras sisa minyak yang sulit diangkat dengan metode konvensional, PHE OSES menorehkan sejarah lewat implementasi Chemical Enhanceed Oil Recovery (CEOR) lepas pantai pertama di Indonesia melalui injeksi polimer perdana di Lapangan Rama.
” Teknologi ini diharapkan mampu memperpanjang umur produktif reservoir yang sudah menua,” imbuhnya.
Geliat optimasi sumur tua di wilayah kerja PHE OSES ini menjadi bagian penting dari agenda besar Subholdinng Upstream Pertamina, yang tahun ini membidik target masif berkisar antara 1.248 hingga 1.284 pekerjaan workover (pelerjaan ulang) secara nasional.
Melalui strategi tersebut, Pertamina sukses menjaga realisasi produksi migas hulu di angka 935 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD) pada paruh pertama tahun ini. Angka tersebut ditopang oleh produksi minyak sebesar 459 MBOPD serta produksi gas bumi mencapai 2.756 MMSCFD.
Keberhasilan mempertahankan angka produksi di tengah keterbatasan cadangan ini membuktikan bahwa sumur tua, jika dikelola dengan inovasi yang tepat, mampu menjadi pilar kokoh penyokong swasembada energi nasional. (Din/LN)
