BANDARLAMPUNG, RUANGBERITA.CO.ID – Proyek pekerjaan pelebaran jalan menuju Standar Jalan RE Martadinata memicu munculnya belasan titik kebocoran pipa milik PERUMDA Air Minum Way Rilau Kota Bandar Lampung.Kamis (27/8/2026).
Menanggapi situasi pelik ini, jajaran direksi, dewan pengawas, bersama pihak kontraktor menggelar rapat koordinasi intensif guna merumuskan solusi taktis. Namun di sisi lain, manajemen PDAM menyayangkan buruknya komunikasi dari instansi penyelenggara proyek di awal pelaksanaan.
Berdasarkan inventarisasi data dalam rapat koordinasi tersebut, tercatat ada 13 titik kebocoran pipa yang tersebar di sepanjang jalur proyek, seperti di area Gerbang Duta Wisata, depan SPBU Keteguhan, depan Toko Pancing, depan Kuburan Cina, serta depan SMA N 11. Imbasnya, gangguan distribusi ini memicu gelombang komplain dari masyarakat, salah satunya di daerah Kedaung akibat kebocoran pipa berdiameter 100 mm.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Teknik PDAM Way Rilau, Dirmansyah (Dirman), S.T., M.PSDA., secara terbuka menyayangkan lemahnya koordinasi dari pihak dinas terkait yang melangsungkan proyek jalan tersebut. Menurutnya, insiden kebocoran massal ini seharusnya bisa diantisipasi jika ada komunikasi yang matang sejak awal sebelum alat berat turun ke lapangan.

“Sebelum melakukan kegiatan pembangunan, harusnya per segmen dinas terkait berkoordinasi dengan kami. Itu problem (masalah) kita yang memang terjadi di sana. Ini baru bocor, baru lapor. Iya, itu ya (kendala di lapangan),” ujar Dirman dengan nada kecewa saat dimintai keterangan.
Dirman menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak menentang kemajuan infrastruktur daerah, namun menyayangkan dampak buruk yang harus ditanggung secara sepihak oleh PDAM dan hilangnya hak konsumen akibat kelalaian teknis di lapangan.
“Kami mendukung lho dengan adanya pembangunan dan pelebaran jalan ini. Tapi yang rugi air kami hilang beberapa kubik dan komplain masyarakat masuknya ke kantor kami. Padahal sebelumnya kan sudah kami jelaskan dan sudah kami buatkan jalur kami di mana letak pipa-pipa PDAM, itu semua sudah kita beritahu,” imbuhnya.
Sementara itu, Dewan Pengawas PERUMDA Way Rilau, Ir. Sukendi, juga mendesak agar jadwal pengaspalan disesuaikan secara detail dengan pemetaan pipa bocor agar perbaikan bisa dilakukan secara simultan sebelum struktur jalan permanen diselesaikan.
“Hal ini krusial untuk memastikan segmen-segmen pipa yang bocor segera tertangani sebelum struktur jalan permanen diselesaikan,” ucapnya.

Pihak kontraktor penyedia jasa dari PT Sang Bima Ratu, Dono S., juga menyatakan komitmennya untuk melakukan percepatan pekerjaan, terutama pada kegiatan cut and fill, serta menyelaraskan pemasangan pipa dengan perkerasan jalan.
Sebagai langkah tindak lanjut, data hasil inventarisasi jaringan pipa di sepanjang Jalan RE Martadinata ini akan segera dikirimkan kepada Dinas BMBK Provinsi Lampung.
Guna mengatasi dampak yang makin meluas, rapat koordinasi tersebut akhirnya memutuskan pembentukan grup koordinasi khusus yang melibatkan PDAM, PLN, kontraktor PT Sang Bima Ratu, hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mempercepat penanganan keluhan konsumen.
Hingga saat ini, progres fisik pelebaran jalan RE Martadinata tercatat baru mencapai 18,548%. Pihak PDAM Way Rilau mengaku tengah mengupayakan perbaikan secepat mungkin di belasan titik tersebut agar distribusi air ke pelanggan kembali normal. Manajemen PDAM berharap ke depan ada sinergi yang jauh lebih sehat antarinstansi agar pembangunan infrastruktur kota tidak mengorbankan fasilitas publik lainnya. (Din/LN)
